June 9, 2021 By tastesofvictory.com 0

Coaching, Counselling, Mentoring Sama Saja? Nyatanya Beda

” Apa itu coaching?” suara Coach Adam Amrullah menggema, menanyakan kepada partisipan training komunitas Pemimpin. ID, Ahad( 17 November 2019).

Partisipan berasal dari mahasiswa tingkatan 1 Universitas Islam Negara Syarif Hidayatullah Jakarta serta Institut Pertanian Bogor.

Bertempat di kantor Paragon Pesanggrahan, sebagian partisipan mengajukan sebagian opsi jawaban. Coach Adam setelah itu menjawab,” Coach tidak memusatkan, namun memakai tata cara bertanya supaya orang bisa mencari pemecahan buat dirinya sendiri.”

Sepanjang ini, aku pikir apa yang dinamakan coaching, consulting, counselling, mentoring itu mirip- mirip. Nyatanya, kesemuanya mempunyai definisi yang berbeda.

Ambil contoh saja, counselling ataupun konseling. Konseling lebih menggali menimpa kasus seorang dengan tata cara bertanya. Sebaliknya coaching lebih menggali pemecahan masa depan seorang yang berasal dari dirinya sendiri lewat bertanya Pelatihan Counselor .

Mentoring serta consulting sendiri lebih banyak jatah mentor serta konsultan yang membagikan arah dibanding bertanya kepada klien. Arah yang diartikan merupakan arah masa depan.

Sebaliknya pengobatan lebih ke arah berikan ketahui seorang gimana meninjau permasalahan- permasalahan yang sudah terjalin.

Kesemuanya merupakan aplikasi yang tidak meniadakan satu sama lain. Pemakaian tata cara pasti kembali lagi cocok pada kebutuhan.

__

Coach Adam melanjutkan, terdapat 3 skill dasar yang butuh dipelajari buat meng- coaching seorang. Awal merupakan( 1) Sincere Supporting;( 2) Active Listening;( 3) Powerful Questioning.

Sincere Supporting

Sincere Supporting di mari merupakan coach tulus mencermati klien. Sisihkan modus tertentu. Yang terdapat yakni, diri kita tulus buat mencermati cerita klien serta mau menolongnya.

Sebagian metode dalam mempraktikkan sincere supporting merupakan selaraskan frekuensi. Cocokkan emosi kita dengan emosi yang klien tampakkan. Jika dia lagi duduk, kita turut duduk. Jika dia lagi pilu, simak mimik sedihnya. Jika dia bersemangat, hingga tampakkan antusiasme pula.

Hadirkan pula rasa aman. Hadirkan bahasa badan yang menunjukkan bila coach mencermati kliennya. Dapat dengan anggukan, senyum, balasan pendek dengan mengatakan” Ok..”” Ya..” serta lain sebagainya.

Ulang pula kalimatnya serta merangkum kalimatnya, buat menghasilkan koneksi: kalau coach paham apa yang kliennya ucapkan. Jangan kurang ingat pula buat berikan sela waktu supaya klien mengekspresikan emosinya.